PROSES KONSELING PADA TUNA LARAS
Seperti yang sudah teman-teman lihat, bahwa minggu lalu saya sudah membuat studi kasus tentang tuna grahita, tuna daksa, dan tuna laras. Kali ini saya akan membuat artikel tentang proses konseling pada tuna laras.
Sebelum melaksanakan Konseling, konselor harus melakukan assessment terlebih dahulu kepada klien, supaya konselor mengetahui bagaimana penanganan yang tepat untuk menangani klien atau subjek.
Assessment tersebut berupa identitas diri, identitas orang tua, jenis kelainan, dan permasalah apa yang sedang dihadapi oleh klien, dan lain-lain.
Supaya berurutan, saya tuliskan kembali identitas klien dan permasalah bidang BKnya berikut ini:
1. Identitas klien
Nama : Kosmos
Tempat, Tanggal Lahir : Ambon, 9 April 1995
Agama : Kristen
Status : Anak ke 3 dari 4 bersaudara
2. Permasalahan Pada Bidang BK
a. Pribadi
Secara emosi, cenderung stabil dan agak terkontrol. Tetapi pada saat-saat tertentu terkadang emosinya meledak-ledak. Prilakunya yang sering terlihat dan menonjol adalah subjek sering mencuri dan berbohong, dan apabila marah membawa batu dan memecahkan kaca atau dilempar kepada orang.
b. Sosial
Kurang berinteraksi dengan baik dengan masyarakat, karena adanya ketidaknyamanan dan ketidakamanan yang dirasakan anak. Diakibatkan karena trauma akan konflik yang pernah dialami anak. Dan awalnya anak seringkali berteman dengan sesama anak-anak atau anak-anak yang menurutnya punya kesamaan baik latar belakang maupun kesukaan yang sama. Lingkungan masyarakat di sana termasuk lingkungan yang tempramen dan mudah tersulut emosi, bisa jadi subjek berperilaku mudah marah karena faktor lingkungan juga.
c. Keluarga
Kondisi keluarga subjek tidak harmonis (broken home) dan subjek kurang mendapatkan kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan.
d. Karier
Subjek dimasukkan ke SLB E Solo oleh neneknya. Di sekolah berusaha memaksimalkan KBM, melakukan pembinaan di asrama dengan cara memasukkannya ke sana, dan melakukan pembinaan keagamaan.
e. Agama
Setelah dimasukkan di asrama, treatment ini menghasilkan 75% keberhasilan. Artinya pada kepribadian subjek termasuk bidang keagamaan ada perkembangan yang lebih baik. Karena di sana juga ada pembinaan keagamaan.
3. Proses Konseling
Dilihat dari studi kasus dan keadaan permasalahan yang ada di bidang BK, ada tiga bidang BK yang bermasalah pada subjek, yaitu bidang pribadi, sosial dan keluarga.
Dari sini kita bisa menentukan pendekatan apa yang akan digunakan untuk proses konseling pada subjek.
Pada bidang tersebut, subjek merupakan anak yang emosinya cenderung stabil, tapi pada saat-saat tertentu terkadang emosinya meledak-ledak. Dan perilaku yang paling menonjol adalah suka mencuri, berbohong, serta apabila marah akan mengambil batu dan dilemparkan kepada orang lain. Kemudian, lingkungan masyarakatnya juga tidak jauh beda dari perilaku subjek, bisa jadi subjek berperilaku seperti itu karena faktor lingkungan juga. Ditambah subjek merupakan anak yang berasal dari keluarga broken home dan yang mengurus adalah neneknya, sehingga subjek kurang kasih sayang dari orang tuanya.
Jadi, pendekatan yang sesuai untuk diterapkan pada subjek adalah pendekatan behavioristik.
Karena pendekatan ini berfokus pada perubahan perilaku. Dan bertujuan untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi perilaku yang menyimpang (maladaptif) dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkannya. Hal ini harus dilakukan karena subjek cenderung tempramental dan sangat berbahaya bagi orang lain.
Pelaksanaannya dilakukan tentu sesuai prosedur dan konselor harus mempunyai banyak cara supaya subjek nyaman ketika proses konseling berjalan karena anak tuna laras cenderung susah untuk mendengarkan nasihat atau hal-hal kebaikan, jika rasa nyaman sudah terbentuk maka proses konseling akan berjalan dengan baik sehingga tujuan konseling pun akan terealisasi dengan baik pula.
4. Layanan Konseling
Layanan yang digunakan adalah layanan konseling individual dan konseling keluarga. Agar konselor fokus pada subjek dan ada dukungan dari keluarga, karena peran keluarga juga sangat dibutuhkan di sini. Konselor membantu supaya subjek berperilaku lebih baik lagi dan emosinya bisa terkontrol dengan baik.
Demikian, penjelasan tentang proses konseling pada tuna laras. Mohon maaf apabila ada kesalahan, terima kasih.