LAPORAN AKHIR BELAJAR MANDIRI FILSAFAT ISLAM
LAPORAN BELAJAR MANDIRI MK FILSAFAT ISLAM
TASYRI’IYAH
NIM : 191520047
KELAS : BKI 3B
JURUSAN BKI FADA UIN SMH BANTEN
1. Pendahuluan
Assalamu’alaikum teman-teman semua perkenalkan nama saya Tasyri’iyah, mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten jurusan Bimbingan Konseling Islam semester 3 kelas B asal Cilegon. Kali ini Saya akan menulis tugas laporan belajar mandiri mata kuliah filsafat islam dan bapak Ahmad Fadhil, Lc., M.Hum. selaku dosen mata kuliah ini. Sebenarnya mata kuliah filsafat ini cukup sulit bagi saya pribadi karena memang untuk mempelajarinya butuh pemahaman yang lama apalagi jika harus mempelajarinya secara mandiri. Walaupun pembelajaran ini juga sangat menantang mulai dari mencari referensi-referensi dari buku ataupun dari media lain, karena tidak semua media menyediakan materi yang kita cari untuk dijadikan bahan pembelajaran di mata kuliah filsafat islam ini.
2. Pengalaman Saat Belajar Mandiri Pada Mata Kuliah Filsafat Islam
a. Alasan Memilih Tema
Tema belajar yang saya pilih yaitu Hukum berfilsafat, Etika, dan Aliran Iluminasionisme. Yang pertama yaitu hukum berfilsafat saya memilih sub tema hukum berfilsafat karena saya mengakui masih pemula untuk mempelajari filsafat islam. Jadi sebelum lebih dalam mempelajari filsafat, saya harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana hukum berfilsafat. Yang kedua yaitu etika, alasan saya memilih sub tema etika karena menurut saya etika sangat penting dalam kehidupan dan etika ini sangat diperlukan di kehidupan sehari-hari supaya moral manusia terbentuk dengan baik, khususnya saya sendiri yang sedang mempelajari materi ini. Yang ketiga, tentang aliran iluminasionisme alasan saya memilih sub tema aliran iluminasionisme sepertinya aliran ini lebih mudah dimengerti dari aliran-aliran lain walaupun masih harus ekstra juga untuk lebih memahaminya.
b. Target belajar
Ketika mempelajari sub tema yang sudah dicantumkan di peta belajar target atau tujuan saya mempelajarinya bermacam-macam. Di sub tema hukum berfilsafat tujuan saya mempelajarinya yaitu hanya sebatas pengetahuan dasar saja untuk menambah ilmu pengetahuan terhadap filsafat islam. Kemudian di sub tema yang kedua target saya mempelajarinya yaitu sampai saya paham betul akan pentingnya mempelajari etika bahkan lebih afdhal lagi sampai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sub tema yang terakhir yaitu tentang aliran iluminasionisme tujuan saya mempelajarinya adalah untuk menambah pengentahuan saya terhadap filsafat terutama di aliran iluminasionimse ini, tapi hanya sebatas pengetahuan tingkat dasar saja.
c. Sumber belajar
Dari semua sub tema yang saya pelajari, saya mendapatkannya dari berbagai sumber tetapi sumber yang pas dan akhirnya saya pilih yaitu dari internet dan e-book. Sebenarnya saya ingin mencari sumber dari buku tapi karena keterbatasan buku yang saya miliki dan di perpustakaan yang saya cari juga tidak menemukan materinya. Mungkin sudah banyak yang meminjamnya atau mungkin koleksi buku di perpustakaan tersebut kurang lengkap.
3. Pengetahuan Baru Dari Belajar Mandiri Pada Mata Kuliah Filsafat Islam
a. Pembahasan Tema 1 (Hukum Berfilsafat)
Yang pertama adalah tentang filsafat dan agama, pertentangan filsafat dan agama telah dikaji oleh Ibnu Rusyd dengan menulis buku Tahafut at Tahafut (kerancuan dari kerancuan) sebagai kritik atas Al-Ghazali yang menulis buku Tahafut al-Falasifah (kerancuan filsafat), didalamnya Ibnu Rusyd berupaya mempertemukan filsafat dan agama. Menurutnya, pengetahuan bersumber atas dua hal yaitu realitas dan wahyu. Realitas sendiri, sebagaimana dalam pandangannya terdiri atas dua hal, yaitu realitas metafisik (ma’qulat) melahirkan filsafat dan material (mahsusat) melahiran sains. Sementara itu, wahyu melahirkan ilmu-ilmu keagamaan (ulum al-syar’iyah). Meski demikian, dua sumber pengetahuan ini tidak bertentangan, tapi selaras dan saling berkaitan karena keduanya berasal dari sumber yang sama, Tuhan Yang Maha Esa, sesuatu yang berasal dari sumber yang sama tidak mungkin bertentangan.
Selanjutnya, yaitu materi yang kedua tentang pentingnya berfilsafat. Menurut Khudori Soleh, dalam bukunya filsafat islam menyatakan bahwa salah satu faktor utama kelesuan berfikir dan berijtihad dikalangan umat islam saat ini, disebabkan umat islam tidak mau melihat dan memperhatikan filsafat sebagai kajian tentang proses berfikir atau proses penalaran.
Tambahnya, dalam upaya pengembangan dan kajian keilmuan islam saat ini kita tidak bisa berpaling dan meninggalkan filsafat. Tanpa sentuhan filsafat, pemikiran dan kekuatan spiritual islam akan sulit menjelaskan jati dirinya dalam era global. Karena itulah Fazlur Rahman menyatakan bahwa filsafat adalah ruh atau ibu pengetahuan dan metode utama dalam berfikir, bukan produk pemikiran. Tanpa filsafat seseorang seseorang tidak mampu mengembangkan ilmunya, bahkan tanpa filsafat ia berarti telah melakukan bunuh diri intelektual.
Dan yang terakhir yaitu tentang filsafat dalam Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an sendiri tidak ditemukan kata filsafat, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab sedangkan filsafat berasal dari bahasa Yunani. Al-Qur’an hanya banyak menyebut kata hikmah, yang berakar sama dengan sifat Allah al-Hakim (Maha Bijaksana). Jika Al-Qur’an adalah wahyu yang diberikan khusus kepada Nabi dan Rasul, maka hikmah yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (Q.S Al-Baqarah: 269), dengan syarat apabila manusia tersebut mau dan mampu mengoptimalkan penggunaan akalnya dengan cara membaca dan memahaminya.
Salah satu contoh seseorang harus memahami menggunaakan akalnya adalah tentang bagaimana memahami ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat yang jelas dan tegas maksudnya) seperti yang tercantum dalam Q.S Ali Imran:7. Ayat-ayat muhkamat mungkin mudah dipahami, tetapi ayat-ayat mutasyabihat menuntut pembacanya melakuan interpretasi, penafsiran atau takwil yang mana sangat dibutuhkan pemahaman yang mendalam atau berfikir filosofis.
Sebagai penutup, dari penjelasan diatas banyak sekali ilmu baru yang dipahami terutama untuk saya pribadi. Ternyata ilmu filsafat ini sangat penting apalagi filsafat adalah ilmu yang berhubungan dengan pemikiran yang sangat luas, sebagaimana yang dikatakan oleh Fazlur Rahman di atas yaitu filsafat adalah ruh atau ibu pengetahuan dan metode utama dalam berfikir, bukan produk pemikiran. Walaupun banyak yang beranggapan filsafat itu radikal, sebenarnya tinggal kitanya saja yang memahami filsafat itu seperti apa. Dan anggapan seperti itu harus diluruskan karena mengingat tujuan filsafat yaitu menciptakan pribadi yang matang dalam berfikir sehingga orang yang belajar filsafat akan sangat bijak untuk memilih serta melakukan sesuatu dalam hidupnya.
b. Pembahasan Tema 2 (Etika)
Kemudian kenapa saya mengambil tema Etika? Karena menurut saya pribadi etika ini sangat penting untuk dipelajari agar digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa etika itu sangat tidak mencermikan manusia yang baik bagi saya karena etika ini yang membedakan manusia dengan binatang sebab manusia mempunyai akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh karena itu manusia juga bisa disebut dengan binatang yang berpikir. Ini sedikit melenceng dari pembahsan etika jadi ke pembahasan manusia yah hehe, tapi memang etika dan manusia itu tidak bisa dipisahkan seperti gula dan semut. Ada gula ada semut, ada manusia pasti ada etika pula.
Baiklah saya akan sedikit membahas materi etika menurut Frans Magnis Suseno. Menurut beliau etika dan moral itu sangat berhubungan erat satu sama lain. Menurut KBBI moral adalah akhlak, budi pekerti atau susila. Sedangkan menurut Frans Magnis Suseno moral adalah ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, patokan-patokan, entah lisan/tertulis, bagaimana seseorang hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Dan sumber-sumber ajaran itu bisa dari orang tua, masyarakat dan agama. Dan etika menurut Frans Magnis Suseno adalah filsafat atau pemikiran kritis yang mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran.
Lanjut ke pembahasan etika menurut Widjaja. Menurut beliau moral adalah ajaran baik dan buruk tentang akhlak. Oleh karena itu , moral merupakan ajaran-ajaran yang bersumber dari golongan tertentu yang termanifestasi lewat sebuah prilaku dalam praktik di kehidupan sehari-hari, artinya moral ini lebih bersifat konkrit dan nyata. Sedangkan menurut Widjaja etika merupakan sistem nilai/kumpulan nilai yang dianut seseorang atau suatu masyarakat. Jadi, etika lebih bersifat abstrak dibandingkan moral karena masih berupa sistem, pemikiran dan teori.
Oke sampai dipembahasan terakhir yaitu etika menurut Al-Razi (seorang filosof muslim) dan juga seorang ahli kedokteran pada abad ke-10, secara tegas menyebutkan mengenai pengobatan rohani sebagaimana dalam karyanya yang berjudul Thibb al-Ruhani (Kedokteran Rohani). Dalam memandang manusia, filsafat islam melihat secara menyeluruh, baik aspek jiwa fisik. Keduanya adalah kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika ilmu kedokteran berfokus pada dimensi mental dan fisik manusia. Maka moral dan etika berfokus pada dimensi mental maupun fisiknya berupa perbuatan-perbuatan. Metode pengobatan moral dan etika sama halnya dengan metode kedokteran yang preventif dan kuratif.
Dari penjelasan yang disampaikan oleh beberapa ahli diatas dapat kita ketahui bahwasanya etika dan moral itu tidak bisa dipisahkan hanya saja perbedaannya yaitu etika lebih bersifat abstrak karena masih berupa teori, sedangkan moral itu lebih bersifat konkrit atau nyata, tapi keduanya sangat penting. Nah bisa kita simpulkan juga bahwa etika adalah ilmu atau ajaran yang mengarahkan kita menjadi pribadi atau manusia yang baik dan juga bermanfaat untuk orang lain.
c. Pembahasan Tema 3 (Aliran Iluminasionisme)
Baiklah saya akan sedikit membahas tentang aliran iluminasionisme. Dalam bahasa filsafat iluminasionisme artinya kontemplasi atau perubahan bentuk kehidupan emosional untuk mencapai tindakan dan harmoni, sedangkan menurut Suhrawardi iluminasi yaitu ilmu cahaya yang membahas sifat dan cara pembiasannya. Cahaya ini menurutnya tidak bisa. didefinisikan karena dia adalah realitas yang paling nyata sekaligus menampakkan sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang lain meteriil atau non-materi, dalam kaitannya dengan objek di bawahnya. Cahaya ini memiliki dua bentuk, yaitu cahaya terang pada dirinya sendiri dan cahaya terang pada saat yang sama menerangi yang lain. Cahaya terakhir ini menerangi segala sesuatu, namun bagamana statusnya cahaya tetaplah sesuatu yang terang dan bagaimana yang disebutkan ia adalah penyebab sesuatu yang tidak dapat beremenasi darinya.
Selanjutnya berdasarkan karakteristiknya. Karakteristik yang pertama yaitu karakeristik dari sudut metodologis. Suhrawardi pernah mengklasifikasikan pencari kebenaran ke dalam tiga kelompok: (1) Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang dalam seperti para sufi, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman mereka secara diskursif. (2) Mereka yang memiliki keterampilan Penalaran diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang cukup dalam pengalaman mistik sangat. Penting untuk mengetahui secara langsung realitas yang sebenarnya agar tidak hanya bertumpu pada otoritas masa lalu seperti yang terdapat pada para filosof peripatetic. (3) Adalah mereka yang selain memiliki pengalaman mistik yang dalam dan otentik juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskursif seperti yang terjadi dalam diri Plato di masa lalu dirinya sendiri di masanya. Arti penting pengalaman mistik adalah pengalaman langsung melihat realitas sejati karena dalam pengalaman mistik semacam itu Objek penelitian telah hadir dalam diri seseorang sehingga cara pengenalan ini sering disebut dengan ilmu hudhur yang kemudian dibedakan dengan ilmu hushuli dimana objek penelitian diperoleh tidak secara langsung melainkan melalui representasi baik berupa simbol maupun konsep. Pentingnya pengalaman mistik untuk pencarian kebenaran adalah bahwa melalui pengalaman, seorang filsuf atau sufi dapat secara langsung menyaksikan kebenaran sejati yang tidak dapat diperoleh dengan cara yang sama melalui pendekatan apa pun terhadap indera atau akal.
Oke lanjut ke pembahasan karakteristik iluminasionisme yang ditinjau dari ontologis. Beberapa filsuf menyamakan Tuhan dengan matahari dan alam sebagai sinarnya. Suhrawardi adalah seorang filsuf muslim yang secara maksimal memanfaatkan simbolisme cahaya untuk menjelaskan filosofinya bahwa Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas yang benar jika dihubungkan dengan cahaya dari cahaya lain. Tuhan itu terang di atas cahaya. Itu adalah sumber dari semua cahaya dari mana semua cahaya lain datang atau memancar, menurutnya segala sesuatu yang ada di dunia ini terdiri dari terang dan gelap. Tetapi hanya cahaya yang memiliki bentuk positif sedangkan kegelapan negatif dalam arti tidak memiliki realitas objektif. Itu hanya ada sebagai konsekuensi dari ketiadaan cahaya.
Ketika cahaya datang, kegelapan menghilang karena sinar matahari, objek tidak memiliki definisi atau kategori yang jelas seperti yang dibayangkan oleh para peripatetic. Yang membedakan suatu objek dari objek lain hanya intensitas cahaya yang dimilikinya. Semakin banyak kandungan cahayanya, semakin tinggi derajatnya. Hewan dan manusia, misalnya, tidak dibedakan secara kategoris melalui esensinya tetapi disebabkan oleh kenyataan bahwa manusia memiliki yang lebih dibanding dengan hewan. Maka aliran filsafat iluminasi adalah kritik yang cukup fundamental meskipun tidak terlalu jelas atas prinsip hylomorfis, karena sementara hylomorphisme benda-benda bersifat kategorik, bagi kaum iluminasi itu bersifat relative. Bagi yang terakhir sesuatu itu dapat dilihat secara relative “lebih atau kurang” dan tidak secara kategoris ke dalam substansi-substansi yang tetap.
Nah sampai akhirnya di pembahasan terakhir di tema 03 yaitu tentang karakteristik iluminasionisme ditinjau dari kosmologis. Struktur emanasi Suhrawardi juga dibedakan dengan teori emanasi bergerak karena Suhrawardi membagi cahaya yang memancar dari Tuhan menjadi dua jenis cahaya yaitu vertikal yang memancar dari Tuhan secara vertikal melalui rangkaian lampu yang membentang dari cahaya pertama ke dunia barat tengah dalam teori emanasi. Iluminasi ini disebut gradasi cahaya dilihat dari intensitasnya yang disebabkan adanya barzakh-barzakh yang membelah antara dua lampu di atasnya dengan cahaya di bawahnya dan seterusnya. Hubungan antara cahaya di atas dan cahaya di bawah diatur oleh prinsip cinta, namun yang lebih tinggi dari teori emanasi Surabaya adalah munculnya cahaya horizontal yang tidak muncul secara langsung dari Tuhan melainkan dari cahaya vertikal.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya menurut Suhawardi ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dilihat dari hasil akal semata saja. Tetapi rasa juga terlibat akan hal ini, karena rasa juga yang memberikan keyakinan kita tentang teori yang ada dan juga disertai bukti nyatanya.
4. Penutup
Alhamdulillah semua sub-sub tema sudah dijelaskan walaupun masih banyak kekurangan karena saya masih dalam proses belajar. Nah selesailah sudah catatan belajar mandiri filsafat islam ini dan juga sudah dijadikan dalam satu draft laporan belajar mandiri. Selanjutnya mungkin ada revisi yang akan bapak Fadhil berikan kepada saya, sekian dan terimakasih. Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.