CATATAN BELAJAR MANDIRI FILSAFAT ISLAM TEMA 03

Assalamu’alaikum semuanya, kembali lagi bersama saya di catatan belajar mandiri filsafat islam, kali ini kita akan membahas tema ke-03. Sebelumnya saya mohon maaf terlebih dahulu, ternyata setelah peta belajar saya baca kembali ada kesalahan pengetikkan di tema 03 ini. Di peta belajar  yang saya cantumkan di sub tema ke-03 adalah filsafat fundamental sedangkan di sub-sub temanya saya mencantumkan sub-sub tema dari aliran iluminasionisme. Jadi seharusnya tema ke-03 ini saya membahas tentang aliran iluminasionisme dan sub-sub tema yang sudah saya cantumkan, karena materi yang sudah saya pelajari yaitu tentang aliran iluminasionisme, dan sekarang saya akan membahasnya. Maka dari itu saya akan melampirkan ulang lagi peta belajar yang sudah saya revisi kembali yaitu sebagai berikut:
Sama halnya dengan tema sebelumnya, pada tema ke-03 ini saya sudah mencari materinya bersamaan dengan tema belajar 01 dan 02 karena pada saat itu memang sedang cukup kuota untuk mencarinya di internet dan e-book hehe. Saat mempelajari materi ini banyak kesulitan yang saya rasakan salah satunya yaitu ketika memahami materinya karena butuh pemahaman ekstra untuk memahaminya bahkan dari sekian banyanya aliran yang sudah disiapkan oleh bapak Fadhil selaku dosen mata kuliah ini, aliran iluminasionisme yang paling mudah untuk dipahami tapi masih harus ekstra untuk lebih memahaminya. 

Baiklah saya akan sedikit membahas tentang aliran iluminasionisme. Dalam bahasa filsafat iluminasionisme artinya kontemplasi atau perubahan bentuk kehidupan emosional untuk mencapai tindakan dan harmoni, sedangkan menurut Suhrawardi iluminasi yaitu ilmu cahaya yang membahas sifat dan cara pembiasannya. Cahaya ini menurutnya tidak bisa didefinisikan karena dia adalah realitas yang paling nyata sekaligus menampakkan sesuatu. Cahaya ini juga merupakan substansi yang lain meteriil atau non-materi, dalam kaitannya dengan objek di bawahnya.  Cahaya ini memiliki dua bentuk, yaitu cahaya terang pada dirinya sendiri dan cahaya terang pada saat yang sama menerangi yang lain.  Cahaya terakhir ini menerangi segala sesuatu, namun bagaimana statusnya cahaya tetaplah sesuatu yang terang dan bagaimana yang disebutkan ia adalah penyebab sesuatu yang tidak dapat beremenasi darinya.

Selanjutnya berdasarkan karakteristiknya. Karakteristik yang pertama yaitu karakeristik dari sudut metodologis. Suhrawardi pernah mengklasifikasikan pencari kebenaran ke dalam tiga kelompok: (1) Mereka yang memiliki pengalaman mistik yang dalam seperti para sufi, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman mereka secara diskursif. (2) Mereka yang memiliki keterampilan penalaran diskursif tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang cukup dalam pengalaman mistik sangat.  Penting untuk mengetahui secara langsung realitas yang sebenarnya agar tidak hanya bertumpu pada otoritas masa lalu seperti yang terdapat pada para filosof peripatetic. (3) Adalah mereka yang selain memiliki pengalaman mistik yang dalam dan otentik juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskursif seperti yang terjadi dalam diri Plato di masa lalu dirinya sendiri di masanya. Arti penting pengalaman mistik adalah pengalaman langsung melihat realitas sejati karena dalam pengalaman mistik semacam itu objek penelitian telah hadir dalam diri seseorang sehingga cara pengenalan ini sering disebut dengan ilmu hudhur yang kemudian dibedakan dengan ilmu hushuli dimana objek penelitian diperoleh tidak secara langsung melainkan melalui representasi baik berupa simbol maupun konsep.  Pentingnya pengalaman mistik untuk pencarian kebenaran adalah bahwa melalui pengalaman, seorang filsuf atau sufi dapat secara langsung menyaksikan kebenaran sejati yang tidak dapat diperoleh dengan cara yang sama melalui pendekatan apa pun terhadap indera atau akal.

Oke lanjut ke pembahasan karakteristik iluminasionisme yang ditinjau dari ontologis. Beberapa filsuf menyamakan Tuhan dengan matahari dan alam sebagai sinarnya.  Suhrawardi adalah seorang filsuf muslim yang secara maksimal memanfaatkan simbolisme cahaya untuk menjelaskan filosofinya bahwa Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas yang benar jika dihubungkan dengan cahaya dari cahaya lain.  Tuhan itu terang di atas cahaya.  Itu adalah sumber dari semua cahaya dari mana semua cahaya lain datang atau memancar, menurutnya segala sesuatu yang ada di dunia ini terdiri dari terang dan gelap.  Tetapi hanya cahaya yang memiliki bentuk positif sedangkan kegelapan negatif dalam arti tidak memiliki realitas objektif. Itu hanya ada sebagai konsekuensi dari ketiadaan cahaya. 

Ketika cahaya datang, kegelapan menghilang karena sinar matahari, objek tidak memiliki definisi atau kategori yang jelas seperti yang dibayangkan oleh para peripatetic. Yang membedakan suatu objek dari objek lain hanya intensitas cahaya yang dimilikinya. Semakin banyak kandungan cahayanya, semakin tinggi derajatnya.  Hewan dan manusia, misalnya, tidak dibedakan secara kategoris  melalui esensinya tetapi disebabkan oleh kenyataan bahwa manusia memiliki yang lebih dibanding dengan hewan. Maka aliran filsafat iluminasi adalah kritik yang cukup fundamental meskipun tidak terlalu jelas atas prinsip hylomorfis, karena sementara hylomorphisme benda-benda bersifat kategorik, bagi kaum iluminasi itu bersifat relative. Bagi yang terakhir sesuatu itu dapat dilihat secara relative  “lebih atau kurang” dan tidak secara kategoris ke dalam substansi-substansi yang tetap.

Nah sampai akhirnya di pembahasan terakhir di tema 03 yaitu tentang karakteristik iluminasionisme ditinjau dari kosmologis. Struktur emanasi Suhrawardi juga dibedakan dengan teori emanasi bergerak karena Suhrawardi membagi cahaya yang memancar dari Tuhan menjadi dua jenis cahaya yaitu vertikal yang memancar dari Tuhan secara vertikal melalui rangkaian lampu yang membentang dari  cahaya pertama ke dunia barat tengah dalam teori emanasi.  Iluminasi ini disebut gradasi cahaya dilihat dari intensitasnya yang disebabkan adanya barzakh-barzakh yang membelah antara dua lampu di atasnya dengan cahaya di bawahnya dan seterusnya.  Hubungan antara cahaya di atas dan cahaya di bawah diatur oleh prinsip cinta, namun yang lebih tinggi dari teori emanasi Surabaya adalah munculnya cahaya horizontal yang tidak muncul secara langsung dari Tuhan melainkan dari cahaya vertikal.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya menurut Suhawardi ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dilihat dari hasil akal semata saja. Tetapi rasa juga terlibat akan hal ini, karena rasa juga yang memberikan keyakinan kita tentang teori yang ada dan juga disertai bukti nyatanya.

Alhamdulillah semua sub-sub tema sudah dipaparkan walaupun masih banyak kekurangan karena saya masih dalam proses belajar. Nah selesailah sudah catatan belajar mandiri filsafat islam ini. Selanjutnya mungkin ada revisi yang akan bapak Fadhil berikan kepada saya di tulisan tema ke-03 ini. Sekian dan terimakasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN AKHIR BELAJAR MANDIRI FILSAFAT ISLAM

Tugas Resensi Film Alchemist Of Happiness

Logika Diskusi = (Logika, Filsafat, Sains, dan Teknologi