PROSES KONSELING PADA TUNA RUNGU
Proses konseling ini berdasarkan studi kasus kemarin yang sudah saya buat dan upload ya, untuk teman-teman yang belum membaca silahkan baca terlebih dahulu "Studi Kasus Tuna Rungu, Tuna Rungu Bukan Penghalang".
Sebelum melaksanakan Konseling, konselor harus melakukan assessment terlebih dahulu kepada klien, supaya konselor mengetahui bagaimana penanganan yang tepat untuk menangani klien atau subjek.
Assessment tersebut berupa identitas diri, identitas orang tua, jenis kelainan, dan permasalah apa yang sedang dihadapi oleh klien.
Supaya berurutan, saya tuliskan kembali identitas klien dan permasalah bidang BKnya berikut ini:
1. Identitas Subjek
Nama : Angkie Yudistia
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 5 Mei 1987
Jenis Kelamin : Perempuan
2. Bidang BK
a. Pribadi
Subjek mengalami kehilangan pendengaran pada usia 10 tahun karena efek samping dari mengkonsumsi obat-obatan secara terus menerus untuk mengobati penyakitnya yaitu penyakit malaria. Setelah mengalami gangguan pendengaran, subjek merasa minder dan tidak percaya diri pada lingkungannya saat itu.
b. Sosial
Setelah mengalami gangguan pendengaran subjek mengalami bullying secara verbal, sampai akhirnya tidak percaya diri pada lingkungannya saat itu.
c. Keluarga
Subjek mendapatkan dukungan dari keluarga terutama oleh ibunya. Dan perlahan subjek pun mulai bangkit dan kembali semangat untuk menjalani hidup.
d. Belajar
Subjek merupakan wanita yang berprestasi, salah satu prestasinya adalah subjek telah meluncurkan 3 buku yang inspiratif. Buku yang pertama berjudul "Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas", buku yang kedua berjudul "Setinggi Langit", dan buku yang ketiga berjudul "Become Rich As a Sociopreneur".
e. Karier
Subjek merupakan pendiri Thisable Enterprise. Thisable Enterprise adalah sebuah sosial enterprise yang berdiri sejak 2011 yang memiliki misi untuk memberdayakan disabilitas Indonesia secara ekonomi di dunia tenaga kerja. Dan subjek juga merupakan Staff Khusus Presiden.
Dari keadaan permasalahan yang ada di bidang BK, ada dua bidang BK yang bermasalah pada subjek.
Dari sini kita bisa menentukan pendekatan apa yang akan digunakan untuk proses konseling subjek.
3. Proses Konseling
Dari bidang BK di atas, bisa kita lihat bahwa subjek mengalami permasalahan dalam bidang pribadi dan bidang sosial.
Pada bidang ini subjek mengalami bullying sehingga mengakibatkan munculnya rasa minder dan kurang percaya diri dalam diri subjek pada lingkungannya saat itu, setelah dia mengalami gangguan tuna rungu pada usia 10 tahun.
Jadi, pendekatan yang sesuai untuk diterapkan pada subjek adalah pendekatan behavioral.
Mengapa melakukan pendekatan behavioral?
Karena dengan menggunakan pendekatan ini, konselor akan fokus untuk mengarahkan subjek pada perubahan perilaku. Tentunya dengan cara yang baik sesuai dengan kebutuhan subjek yang tuna rungu, supaya pesan yang ingin disampaikan oleh konselor kepada subjek bisa tersampaikan dengan baik.
4. Layanan Konseling
Layanan yang diberikan dan sesuai dengan permasalahan klien adalah layanan perorangan.
Layanan perorangan bertujuan untuk mengentaskan permasalahan klien dari keadaan yang mendesak diri klien karena hak-hak yang hendak dilaksanakan terhambat dan terkekang oleh suatu keadaan, kehidupan, dan perkembangannya, terutama pendidikan dan masa depannya.
Oleh karena itu konselor memberikan layanan perorangan agar konselor fokus untuk perlahan-lahan membantu klien mengurangi rasa minder dan tidak percaya dirinya. Dan klien kembali bersosialisasi dengan lingkungannya secara nyaman.